


Saya memiliki minat seksual khusus terhadap wanita
yang lebih tua. Bahkan minat khusus tersebut telah ada
sejak saya remaja. Saat remaja, saya ingat bahwa ketika
saya bermasturbasi, saya lebih suka membayangkan tante-
tante tetangga rumah, teman-teman ibu saya, ibu guru,
maupun wanita-wanita lain yang masih terbilang ada
hubungan keluarga. Boleh dikata, saya sangat jarang
menjadikan cewe-cewe sebaya saya sebagai obyek fantasi
ketika bermasturbasi.
Minat tersebut rupanya terus bertahan sampai saat
ini, walaupun saya sudah berkeluarga. Salah satu wanita
yang saya minati dan sering menjadi obyek fantasi seksual
saya sampai saat ini adalah ibu mertua saya sendiri yang
bernama Nani. Saat ini beliau berusia 57 tahun. Ibu
mertua saya ini sudah menjanda sejak tahun 1984, karena
bapak mertua saya meninggal karena kecelakaan waktu itu.
Rasa tertarik terhadap ibu mertua saya ini sudah
timbul pada saat saya pertama kali diperkenalkan oleh
pacar (isteri) saya padanya di tahun 1990. Sejak saat
itu, saya sering menjadikan beliau menjadi obyek fantasi
saat saya bermasturbasi. Begitu besarnya rasa tertarik
saya pada beliau, sehingga pernah terlintas pikiran
untuk kawin dengan beliau entah bagaimana caranya. Tetapi
pikiran tersebut tidak saya kembangkan lebih lanjut
karena saat itu beliau sudah menopause, sedangkan saya
masih memiliki keinginan untuk memiliki anak. Lagipula,
pasti akan banyak masalah dan hambatan untuk mewujudkan
pikiran tersebut. Karena itulah akhirnya, saya tetap
melanjutkan hubungan saya dengan Linda, sehingga akhirnya
kami menikah pada tahun 1993.
Saat baru menikah, kami tinggal bersama ibu mertua
saya ini. Karena 3 orang kakak isteri saya yang telah
menikah telah memiliki rumah sendiri-sendiri, sedangkan 2
orang adik isteri saya sedang kuliah di Bandung dan
Yogyakarta. Kami tinggal di rumah ibu mertua saya
tersebut, selain untuk menemani beliau, juga karena
kondisi keuangan kami saat itu belum memadai untuk
memiliki rumah sendiri.
Selama kurang lebih satu tahun tiga bulan tinggal
bersama mertua inilah, ada sejumlah pengalaman baru, yang
makin menunjang saya untuk menjadikan beliau menjadi
obyek fantasi favorit saya. Pengalaman baru yang maksud
misalnya adalah saya sering mendapat kesempatan melihat
paha mertua saya, entah ketika nonton TV, atau sedang
bersih-bersih rumah, dan sebagainya. Cukup sering juga
saya memergoki beliau keluar dari kamar mandi dengan
hanya berlilitkan handuk di tubuhnya. Bahkan pernah
sekali waktu saya beruntung dapat melihat payudara ibu
mertua saya tersebut dalam keadaan telanjang ketika ia
membuka lilitan handuknya hendak berganti baju. Sayangnya
beliau masih memakai celana dalam. Kalau tidak ....
Wuiihhh. Pernah juga saya melihat putting payudaranya
menyembul keluar daster secara tidak sengaja ketika
beliau nonton TV sambil tidur-tiduran di sofa.
Pengalaman-pengalaman baru seperti itulah yang
semakin memperkuat minat seksual pada beliau. Terkecuali,
pada saat-saat kesadaran moral dan religius saya sedang
baik, saya sering memiliki keinginan untuk dapat
menyetubuhi ibu mertua saya tersebut. Namun, saya tidak
tahu caranya. Yang dapat saya lakukan saat itu hanyalah
berfantasi saja. Bahkan cukup sering, ketika saya
bersetubuh dengan isteri saya, yang ada dalam kepala saya
adalah bersetubuh dengan ibu mertua saya tersebut. Selain
berfantasi, paling jauh saya hanya memiliki kesempatan
untuk cium pipi dan memeluk ibu mertua saya tersebut pada
tiga kesempatan. Yaitu pada saat hari ulang tahun beliau,
ulang tahun saya dan ulang tahun perkawinan saya dengan
Linda. Pada kesempatan di hari ulang tahun saya, ketika
menerima cium dan peluk dari ibu mertua, untuk pertama
kalinya saya merasakan himpitan payudara beliau di dada
saya. Pengalaman ini sangat berkesan pada diri saya. Saya
ingat bahwa pada malam itu, saya sangat bernafsu dan
menggebu-gebu memesrai isteri saya. Saat itu, saya
sanggup sampai empat kali mengalami eyakulasi ketika kami
bersetubuh. Padahal, biasanya paling banyak saya hanya
tahan dua kali saja. Yang pasti, ketika memesrai isteri
saya, yang terbayang saat itu adalah ibunya.
Pengalaman lebih jauh yang saya alami dengan ibu
mertua saya tersebut terjadi ketika saya dan isteri
saya menemani beliau ke Semarang untuk menghadiri
pernikahan salah satu keluarga dekat dari almarhum bapa
mertua saya. Ketika itu kami menginap di rumah keluarga
calon pengantin. Karena terbatasnya tempat, kami hanya
mendapat satu kamar dengan satu tempat tidur ukuran
besar. Terpaksa, malam itu kami tidur bertiga di tempat
tidur itu. Posisinya adalah, saya di sisi kiri, isteri
saya di tengah dan ibu mertua saya di sisi kanan. Lampu
kamar dimatikan ketika kami berangkat tidur. Ketika
terbangun pagi harinya, saya kemudian sadar bahwa isteri
saya sudah tidak ada di tempatnya. Sambil berbaring saya
berusaha mencari isteri saya di kamar, tetapi saya tidak
dapat menemukannya. Secara samar-samar saya hanya melihat
tubuh ibu mertua tidur memunggungi saya. Saya langsung
menduga bahwa isteri saya pasti ke kamar mandi
sebagaimana kebiasaannya. Isteri saya terbiasa secara
teratur bangun jam 04.30 dan kemudian ke kamar mandi
untuk buang air besar dan mandi. Saat itu timbul pikiran
kotor dan nakal dalam otak saya. Apalagi pada pagi hari
biasanya si "otong" berdiri tegak dan kencang. Pikiran
saya saat itu tidak jauh dari situ.
Dengan bergaya masih dalam keadaan tidur, saya
bergeser mendekat ke arah tubuh mertua saya. Setelah
cukup dekat (bahkan hampir rapat tapi belum bersentuhan),
dengan gaya tidak sengaja saya menggeser tangan kiri saya
ke atas pinggul mertua saya. Tidak ada reaksi apa-apa
dari mertua saya. Dengan lembut dan perlahan kemudian
saya mulai menggerakkan telapak tangan saya di pinggul
mertua saya. Juga tidak ada reaksi atau perubahan apa-
apa. Saya kemudian memberanikan diri untuk mengelus-elus
pantat mertua saya. Empuk dan halus rasanya. Saya juga
dapat merasakan tekstur dari bagian pinggir celana
dalamnya. Yang terpikir dalam otak saya saat itu,
akhirnya ada juga yang jadi kenyataan khayalanku.
Sementara itu, si "otong" semakin tegak dan keras saja,
dan kemudian secara refleks tangan kanan saya mulai
meraba-raba si "otong". Ingin rasanya saya mengarahkan
tangan kiri saya ke arah kemaluan ibu mertua saya. Namun,
saat itu saya takut ibu mertua jadi terbangun. Karena
itu, dengan susah payah saya berusaha menahan keinginan
tersebut. Kemudian, masih dalam gaya pura-pura masih
tidur saya merapat dan memeluk ibu mertua dari belakang.
Posisi ibu mertua saya kemudian agak berubah dari
memunggungi saya menjadi lebih terlentang, walaupun
wajahnya masih ke arah yang berlawanan dengan posisi di
mana saya berada. Ibu mertua saya saat itu terlihat masih
dalam keadaan tidur yang cukup nyenyak. Boleh jadi karena
perjalanan dengan kereta api sore-malam itu cukup
melelahkannya. Kemudian saya menggeser tangan kiri saya
ke arah payudara kiri ibu mertua saya. Merasa tidak ada
reaksi apa-apa kemudian saya memberanikan diri untuk
menggerak-gerakkan tangan kiri saya. Dengan berhati-hati
sekali saya mengusap-usap payudara beliau. Saya kemudian
sadar bahwa beliau tidak memakai BH ketika saya merasakan
bahwa puting payudara beliau semakin menonjol dan sangat
terasa di telapak tangan saya. Lebih jauh lagi, kemudian
secara lembut saya sesekali meremas payudara beliau
secara perlahan sekali. Nafsu saya semakin meninggi, dan
rasanya debaran jantung saya saat itu sangat cepat dan
agak keras. Saya terkejut dan takut sekali ketika tiba-
tiba tubuh beliau bergerak dan menjadi lebih menghadap
tubuhku. Mati aku .... Pikirku saat itu. Tapi kemudian
saya sadar bahwa beliau masih tetap tidur, karena
nafasnya masih teratur. Hanya ketika membalikkan badannya
saja tampaknya beliau agak menghela nafas. Dengan posisi
yang berhadapan, saya dapat melihat dengan cukup jelas,
walaupun agak samar-samar juga karena gelap, mulut ibu
mertua ssaya agak sedikit terbuka. Melihat pemandangan
yang demikian, apalagi memang bibirnya itu sering saya
khayalkan untuk saya kecup, kemudian dengan tekanan
ringan saya menempelkan bibir saya ke bibir beliau. Tapi
kemudian saya tidak tahan lagi, dan secara refleks
kemudian bibir saya mulai mengulum bibir beliau, seraya
tubuh saya bergerak menindih tubuhnya dan menekan
kemaluan saya ke pahanya. Kejadian yang terjadi dalam
waktu yang singkat tersebut akhirnya menyebabkan ibu
mertua saya terbangun. Dimulai dengan suatu lenguhan
pendek "Nngggghhhh ...", kemudian beliau terjaga dan
kemudian mengatakan "heh ! apa-apaan ini?". Saya kaget
setengah mati waktu itu, dan kemudian menggeser tubuh
saya ke samping tubuh ibu mertua saya.
Ibu mertua saya kemudian mengangkat punggungnya dan
duduk di tempat tidur. Setelah beberap saat kemudian dia
berkata "Apa yang kamu lakukan pada Ibu Bang? Koq kamu
sudah mulai berani kurang ajar?" Setelah terdiam beberapa
saat, kemudian saya pun bangkit duduk dan mengatakan
"Maaf Bu, saya kira tadi ibu itu Linda". "Lho, Lindanya
mana?" tanya ibu mertuaku. "Tidak tahu Bu" jawabku.
Kemudian ibu mertua saya turun dari tempat tidur dan
menyalakan lampu kamar. Saya hanya dapat duduk diam
sambil menutup kedua muka saya dengan tangan saya. Ibu
mertua saya kemudian berkata "Jangan sampai terjadi lagi
ya Bang kejadian seperti tadi. Ibu tidak suka. Itu tidak
baik dan dosa". "Maaf Bu, saya sungguh-sungguh minta
maaf, karena saya tadi tidak sadar. Habis, biasanya kalau
pagi kami biasanya melakukan hubungan suami-isteri sih
Bu" jawabku dengan refleks sambil bangun dari tempat
tidur untuk sungkem kepada ibu mertua saya itu. "Mau
ngapain kamu?" sergah ibu mertuaku. "Mau sungkem Bu"
jawabku. "Tidak perlu, yang penting jangan sampai terjadi
lagi" kata ibu mertuaku sambil membalikkan tubuh dan
berjalan menuju pintu. Akhirnya aku duduk terpekur
sendiri di tempat tidur.
Sambil membaringkan kembali tubuhku, terbayang lagi
kejadian-kejadian yang baru terjadi itu. Seingat saya,
ada tiga hal yang paling berkesan untuk saya saat itu.
Pertama, makin menonjolnya putting payudara ibu mertuaku
ketika tanganku mengusap-usapnya. Kedua, persentuhan
lidah kami ketika aku mengulum bibirnya yang menyebabkan
beliau terbangun. Ketiga, lirikan sepintas ibu mertuaku
ke arah selangkanganku ketika beliau berbalik hendak
keluar kamar. Yang pasti, semua yang baru saja terjadi
saat itu merupakan perwujudan dari sebagian khayalanku
terhadap ibu mertuaku. Selain itu, dorongan nafsu yang
belum tersalurkan saat itu rasanya agak menyiksa diriku.
Tidak berapa lama kemudian isteriku masuk ke kamar.
Terlihat rambutnya agak basah, tampaknya ia baru keramas.
"Ibu mana?" tanya isteriku. "Keluar" jawabku secara
singkat seraya bangkit dari tempat tidur menuju ke arah
pintu. Kemudian aku mengunci pintu dan berjalan ke arah
isteriku yang sedang berdiri di depan meja rias. "Mau
ngapain sih mas pakai dikunci segala" tanya isteriku.
"Biasa, kayak kamu nggak tahu saja. Aku sedikit horny
nih" jawabku sambil memeluk dia dari belakang. "Jangan ah
mas ... enggak enak, ini kan di rumah orang" katanya.
Tapi aku terus aja meraba-raba dan menciumi tengkuk dan
lehernya dari belakang. "Aku nggak tahan nih .. lagian
kan masih pada tidur" kataku. Akhirnya isteriku mulai
menyambut serangan-seranganku. Dia tahu persis bahwa aku
bisa marah dan uring-uringan seharian kalau lagi ingin
banget tapi dia tidak mau. "Tapi yang cepetan saja ya mas
... " katanya. Mendengar jawabannya, saya menjadi semakin
aktif. Saya menekan tubuhnya sehingga ia membungkuk dan
meletakkan tangannya di atas kursi meja rias yang ada di
kamar itu. Kemudian saya singkapkan dasternya ke pinggang
dan saya tarik celana dalamnya sampai lepas. Batang
kemaluan saya yang memang sudah mulai basah sejak
kejadian dengan ibu mertua saya tadi kugesek-gesekkan ke
selangkangannya. Setelah cukup licin, akhirnya dalam
posisi dia berdiri membungkuk dan saya dibelakangnya,
kumasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya,
seperti biasanya. Dengan nafsu yang sudah tertahan-tahan
sejak tadi, saya tidak dapat bertahan lama, dan kemudian
akhirnya eyakulasi sambil membayangkan bahwa yang saya
setubuhi itu adalah ibu mertua saya. Ah seandainya saja
benar-benar beliau ......
Sepulang dari Semarang, untuk beberapa waktu
interaksi antara saya dengan ibu mertua saya agak sedikit
kaku. Kadang-kadang saya merasa kikuk kalau harus
berinteraksi dengan beliau. Kekakuan itu akhir berkurang
dengan berjalannya waktu. Apalagi kemudian kami dapat
mulai mencicil rumah kami sendiri, dan akhirnya pindah
dari rumah mertua saya itu ketika salah satu adik isteri
saya lulus dan kembali tinggal di Jakarta. Sejak kejadian
di Semarang itu saya semakin sering memfantasikan ibu
mertua saya maupun memimpikannya ketika tidur. Cukup
sering saya merasa khawatir kalau-kalau saya mengigau dan
isteri saya mengetahui bahwa saya mendambakan ibunya.
Setelah tinggal di rumah sendiri, saya dapat
dikatakan hampir tidak pernah lagi mendapat "pemandangan-
pemandangan indah" dari tubuh mertua saya itu. Dan cukup
sering saya kangen padanya. Setelah berjalan beberapa
waktu akhirnya saya mulai mengenal internet dan
berlangganan pada salah satu provider yang cukup baik.
Dari pengalaman menjelajah internet inilah saya
mendapatkan beberapa ide sehubungan dengan ketertarikan
saya terhadap ibu mertua saya. Salah satu ide yang ingin
saya wujudkan saat itu adalah membuat rekaman video dari
ibu mertua saya. Untuk itu, terpaksa saya menabung untuk
membeli kamera video.
Setelah kamera video terbeli, saya menjadi rajin
mengabadikan acara-acara keluarga dengan kamera tersebut.
Tentunya juga dengan harapan bahwa ada "pemandangan-
pemandangan indah" dari tubuh ibu mertua saya yang dapat
saya rekam. Tapi harapan tidak dapat terwujud. Malah
pemandangan indah yang sempat terekam adalah paha-paha
dari kakak ipar saya yang bernama Susi dan adik ipar saya
yang bernama Lena. Dengan hasil itu, saya harus puas
bermasturbasi hanya dengan memandangi rekaman ibu mertua
saya dalam pakaian lengkap. Tapi saya tetap saja dapat
terangsang hanya dengan pemandangan yang demikian.
Khususnya pada rekaman yang memperlihatkan ibu mertua
saya memakai kebaya. Lekuk-lekuk tubuhnya masih dapat
terlihat, walaupun ibu mertua itu dapat dikatakan agak
kurus. Pinggul besar yang terbungkus kain itulah yang
menggemaskan untuk dicubit. Saya mencoba untuk menjajagi
kemungkinan untuk merekam di kamar mandi di rumah mertua
saya itu, tapi saya tidak dapat menemukan lokasi-posisi
yang aman. Sempat terpikir oleh saya untuk memiliki
kamera kecil (Spy Camera) yang sudah mulai banyak
ditawarkan di internet saat itu. Namun karena harganya
mahal, apalagi dapat dikatakan hanya didistribusikan di
Amerika, pikiran itu tidak dikembangkan lebih lanjut.
Kesempatan untuk membuat rekaman yang lebih menarik
akhirnya datang juga. Dalam rangka pernikahan adik ipar
saya, kami (saya dan isteri saya) menginap di rumah
mertua saya, karena isteri saya saat itu sedang hamil tua
dan agak melelahkan kalau harus pulang pergi Depok-
Rawamangun. Ketika menginap itulah timbul ide untuk
meletakkan kamera didalam tasnya sedemikian rupa sehingga
lensanya masih tetap dapat merekam gambar dihadapannya.
Dalam rencana saya, tas kamera itu akan saya letakkan di
kamar ibu mertua saya, yang kebetulan juga dapat
dikatakan sudah menjadi kamar umum di rumah itu, siapa
saja anak-anaknya yang datang pasti masuk dulu ke kamar
tersebut, dan bisanya juga menaruh barang-barang di kamar
itu.
Setelah mencoba-coba, maka untuk kamuflase saya
mempergunakan kain bekas kaos yang berbentuk jaring (jala-
jala) yang kebetulan berwarna hitam. Berdasarkan coba-
coba itu, saya mendapatkan kesimpulan bahwa kain tersebut
tidak akan terekam kalau posisi lensa pada tele (jarak
jauh) bukan wide (jarak dekat). Semakin dekat akan
semakin jelas terlihat kain tersebut, bahkan dapat
dikatakan mendominasi gambar yang terekam. Semakin tele,
maka akan semakin kabur gambar kain tersebut. Hasil
pertama dan hasil kedua yang saya dapat sangat
mengecewakan saya, karena rekaman yang dapatkan hanyalah
gambar jala-jala dari kaos hitam tersebut dan beberapa
bayangan yang bergerak-gerak. Setelah pengalaman yang
pertama, tadinya saya mengira bahwa yang menjadi penyebab
karena saya menyetel lensa pada posisi wide. Namun,
karena pada hasil yang kedua, rekaman yang saya dapatkan
juga sama, saya menjadi sedikit penasaran. Setelah
dipelajari, akhirnya saya mengetahui penyebabnya. Yakni,
karena saya mempergunakan sarana autofocus dari kamera
tersebut. Akhirnya setelah saya menyetelnya ke posisi
manual, hasil yang saya dapatkan cukup memuaskan saya.
Pada usaha yang ketiga, akhirnya saya mendapat rekaman
yang menggambarkan ibu mertua saya sedang bergantu baju.
Sayangnya, saya tidak mendapat rekaman yang menunjukkan
kemaluannya. Hanya payudaranya saja yang telanjang. Namun
setidaknya, hasil ini cukup untuk bahan atau alat bantu
kalau saya mengkhayalkannya. Apalagi kalau dibandingkan
dengan gambar jala-jala hitam.
Rekaman yang saya dapatkan ketika hari H dari
perkawinan adik ipar saya sungguh mengejutkan dan sangat
menyenangkan saya. Karena setelah saya periksa, banyak
sekali terdapat pemandangan sangat indah yang hanya
berbaju dalam yang didapatkan. Payudara-payudara indah
dan montok walaupun sebagian besar masih memakai BH
maupun paha-paha mulus bukan hanya milik ibu mertua saja,
tapi juga milik kakak-kakak ipar, beberapa sepupu isteri
saya dan juga beberapa orang tantenya, yang mempergunakan
kamar tersebut sebagai kamar ganti dan dandan. Yang
paling mengejutkan, dalam rekaman tersebut terdapat
pemandangan tubuh bulat polos tanpa sehelai benangpun
milik Mbak Uci, isteri dari kakak ipar saya. Walaupun
tubuhnya mungil, tapi proporsional dan menawan. Apalagi
rambut di selangkangannya terlihat hitam dan lebat
sekali. Setelah memiliki rekaman tersebut, obyek fantasi
seksual saya pun bertambah. Bukan hanya semata-mata ibu
mertua saya, tetapi juga merembet ke yang lain. Tapi, ibu
mertua tetap merupakan obyek yang paling favorit.
Sebagaimana umumnya laki-laki lain, saat-saat menanti
kelahiran anak pertama merupakan saat-saat yang penuh
kekhawatiran. Demikian juga pada diri saya. Selain
khawatir terhadap keselamatan calon anak, saya saat itu
juga khawatir dengan keselamatan isteri saya.
Kekhawatiran yang saya ingat adalah bagaimana nasib bayi
saya kalau ibunya tidak selamat (meninggal). Di tengah
kekhawatiran seperti itu pun sempat terpikir oleh saya
seandainya isteri saya meninggal, maka saya berniat untuk
menjadi ibu mertua saya menjadi isteri saya. Kalau ingat-
ingat hal itu, perasaan saya sukar tidak keruan. Tetapi
akhirnya, isteri saya dapat melahirkan dengan selamat.
Berhubung anak pertama, maka isteri saya pun meminta ibu
mertua saya untuk menemaninya dan mengajarinya terlebih
dahulu bagaimana merawat bayi. Artinya, isteri saya
meminta ibu mertua saya untuk sementara waktu menginap di
rumah kami setidaknya selama seminggu pertama sejak
kepulangan dari rumah sakit.
Selama ibu mertua menginap di rumah kami tersebutlah
saya dapat menambah koleksi rekaman video saya. Dan yang
terutama adalah rekaman beliau telanjang bulat di kamar
mandi. Kamera video itu sendiri sudah saya pasang di
kamar mandi satu hari sebelum isteri saya pulang dari
rumah sakit. Kamera saya letakkan di balik kaca satu arah
(one way mirror). Setelah saya memiliki kamera video
(handy cam), saya memang membuat rak khusus di kamar
mandi yang tebalnya kira-kira 12 cm. Di mana salah satu
bagiannya adalah kaca selain bagian-bagian untuk
menyimpan handuk, dan perlengkapan mandi lainnya. Dibalik
kaca tersebut terdapat ruang kosong untuk menaruh kamera
video. Isteri saya tidak mengetahui bahwa kaca yang saya
pergunakan adalah kaca one way mirror. Untuk mengurangi
resiko ketahuan, bagian belakang kaca tersebut (dalamnya)
saya cat hitam agar selalu lebih gelap dari bagian depan
dari kaca. Di depan kaca tersebut (bagian atasnya) saya
pasang lampu neon 15 watt untuk lebih mendukung
persembunyian kamera video saya sekaligus juga sebagai
sumber listrik jika saya menaruh kamera di balik kaca
tersebut. Untuk itu saya memasang satu stop kontak di
balik kaca tersebut. Karena ketebalannya, di rak itu
kamera video hanya dapat diletakkan secara menyamping
(lensa tidak langsung berhadapan dengan kaca), sehingga
untuk dapat merekam situasi di kamar mandi, maka masih
diperlukan satu alat tambahan yang namanya Video Mirror
Scope, yang fungsinya adalah merekam gambar ke samping
lensa kamera (bukan ke depan kamera). Alat saya dapatkan
melalui teman yang pulang dari Amerika ke Indonesia.
Kalau tidak salah belinya di ADORAMA di West 18 th Street
New York. Harganya sekitar 40 US$. Keberadaan dan fungsi
alat itu sendiri saya ketahui dari Majalah Video Maker.
Ide untuk membuat rak dan membeli alat tambahan
tersebut terutama disebabkan karena saya juga ingin
memiliki rekaman video isteri saya ketika dia telanjang
bulat. Jangankan telanjang bulat, masih memakai pakaian
dalam saja ia marah-marah ketika saya mencoba
memvideonya. Selain itu, ketidakmungkinan mewujudkan ide
memasang kamera video di kamar mandi di rumah mertua
saya, akhirnya saya wujudkan di rumah sendiri.
Sejujurnya, pada awalnya tidak pernah terbayang bagi saya
kalau pada akhirnya saya memiliki kesempatan untuk
merekam ibu mertua saya. Apalagi sampai berhari-hari.
Hasil rekaman tersebutlah yang saya pergunakan
sebagai bahan masturbasi di hari-hari selanjutnya.
Khususnya, ketika saya dan isteri saya tidak dapat
melakukan hubungan suami-isteri karena dia baru
melahirkan. Tanpa saya sadari sepenuhnya, rekaman-rekaman
tersebut justru membuat saya semakin tergila-gila pada
ibu mertua saya. Bahkan ketika melihat rekaman yang
menunjukkan belahan pantat beliau, yaitu ketika ia
membungkuk mengambil sabun yang terjatuh, woww ... mantap
!! Disuruh menciumi pantatnya pun rasanya saya mau
melakukannya dengan senang hati. Pokoknya, menjadi
semakin tergila-gila .....
Kira-kira satu minggu beliau menginap di rumah kami
dan kemudian kembali ke rumahnya di Rawamangun.
Pada suatu kesempatan keluarga besar isteriku
mengadakan liburan bersama ke Puncak. Kami menginap di
villa yang dibeli oleh almarhum bapak mertuaku. Karena
kami cukup disibukkan oleh kegiatan kami masing-masing,
kesempatan untuk berlibur bersama ini adalah kesempatan
yang cukup lama. Villa tersebut letaknya di Cipayung,
agak terpencil dan dijaga oleh sepasang suami-isteri yang
cukup berumur, yang berasal dari kampung ibu mertuaku.
Selain menjaga villa, mereka juga mencoba berkebun di
tanah sekitar villa yang cukup luas itu.
Atas usul salah seorang kakak iparku dan disambut
dengan antusias oleh sebagian besar keluarga,
direncanakan pada hari kedua ramai-ramai kami akan ke
Taman Safari. Namun, isteri kakak iparku yang paling tua,
yaitu Mbak Uci berkeberatan untuk ikut karena anaknya
yang paling kecil baru berusia dua bulan. Padahal yang
mengusulkan itu adalah suaminya sendiri, karena anak
mereka yang pertama sangat ingin ke Taman Safari.
Akhirnya diputuskan bahwa rencana itu tetap dijalankan.
Tidak tega melihat Mbak Uci bersedih, ibu mertuaku
akhirnya memutuskan untuk tidak berangkat dan akan
menemani Mbak Uci. Walaupun ada beberapa yang
berkeberatan, tetapi karena bapak dan ibu penjaga villa
tersebut sudah terlanjur diajak dan tampaknya mereka
antusias sekali, akhirnya keinginan ibu mertuaku tersebut
disetujui.
Mengetahui rencana tersebut, terlintas di kepalaku
rencana kotor untuk mewujudkan keinginan menyetubuhi ibu
mertuaku. Sambil berjalan-jalan di kebun, kuhubungi Joko
melalui handphone. Joko kaget menerima teleponku.
Kuceritakan pada Joko keinginanku untuk memberikan
imbalan atas kesempatan yang aku peroleh untuk tidur
dengan Nina. Imbalan yang kutawarkan bukanlah kesempatan
untuk meniduri isteriku, melainkan dengan isteri kakak
iparku, yaitu Mbak Uci. Kukemukakan skenario yang
kurancang sedemikian rupa kepadanya. Mulanya Joko agak
ragu, tapi setelah kuyakinkan, akhirnya ia menyetujui hal
itu. Ia sendiri pernah mengagumi wanita-wanita dalam
keluarga isteriku yang memang cantik-cantik, ketika ia
memperhatikan foto keluarga di ruang kerja kantorku.
Berbekalkan persetujuan Joko itu, ketika makan malam
kuungkapkan kepada keluarga bahwa aku tidak dapat ikut ke
Taman Safari karena ada urusan pekerjaan mendadak yang
aku harus selesaikan. Dan untuk itu aku besok harus
bertemu dengan bawahanku di Bogor. Walaupun agak kecewa,
akhirnya isteriku dan anggota keluarga yang lain dapat
memahaminya.
Dalam suasana riang, rombongan berangkat ke Taman
Safari keesokan harinya. Setelah mencek posisi kamera
video yang aku persiapkan untuk merekam rencanaku untuk
menyetubuhi mertuaku, aku pun pamit pergi ke Bogor. Joko
kutemui bersama dengan salah seorang temannya yang
bernama Herman di salah satu rumah makan, sesuai dengan
rencana yang kami buat kemarin. Di rumah makan itu, aku
menjelaskan lebih rinci rencana yang aku rancang. Secara
garis besar skenario yang aku rancang adalah situasi
perampokan. Di mana Joko dan Herman pada mulanya hanya
berpura-pura ingin merampok, tetapi kemudian tertarik
untuk memperkosa Mbak Uci. Aku menegaskan bahwa mereka
boleh menyetubuhi Mbak Uci tetapi tidak boleh menyetubuhi
ibu mertuaku. Paling jauh mereka hanya boleh merangsang
Ibu mertuaku. Kemudian aku datang, dan dengan rangkaian
tertentu yang akan aku ceritakan nanti, aku dipaksa untuk
menyetubuhi ibu mertuaku. Setelah merasa cukup jelas,
kemudian mereka pergi untuk menjalankan rencana kami itu.
Sepeninggal mereka, aku membayangkan hal-hal yang
akan terjadi nanti. Aku berharap bahwa rencana tersebut
dapat berjalan lancar. Di tengah lamunanku itu, yakni
kurang lebih setengah jam setelah Joko dan Herman pergi,
datanglah bawahanku. Setelah menandatangani surat-surat
yang sebenarnya tidak harus aku tandatangani hari itu,
kusuruh bawahanku pulang dan mengatakan bahwa surat itu
harus diantar hari itu juga. Setelah membeli beberapa
makanan ringan, akhirnya aku naik kembali menuju villa
tempat kami menginap di Cipayung.
Sesampainya di sana, kulihat suasana villa sepi.
Setelah menekan gas mobil dengan agak kencang sebagai
tanda yang telah kami sepakati, aku berjalan menuju ruang
tamu villa tersebut yang dalam keadaan tertutup. Pintu
kubuka dan bersamaan dengan masuknya aku ke dalam ruang
tamu, tiba-tiba aku ditodong dengan pistol, yang
sebenarnya aku tahu bahwa itu hanyalah pistol mainan
walaupun bentuknya sangat mirip dengan pistol sungguhan.
"Angkat tangan dan jangan ribut" kata Herman. Aku pura-
pura kaget dan mengangkat tanganku. Kulihat di salah satu
sofa ibu mertuaku duduk diam memandang ke arah kami
dengan wajah ketakutan. Di seberangnya, kulihat Joko
sedang duduk bertelanjang dada. Sementara itu mbak Uci
terbaring di sampaingnya dalam keadaan hampir telanjang
bulat. Dasternya kulihat tergeletak di bawah sofa tempat
mereka berada, ia hanya memakai BH dan celana dalam saja.
"Ahhh ... " gumamku lega dalam hati.
"Ada apa ini?" tanyaku. "Diam! Jangan banyak tanya"
jawab Herman dengan setengah membentak. Kemudian aku
digiringnya untuk duduk di sebelah kiri mertuaku.
Kemudian sambil mereguk minuman yang ada di meja, Herman
berputar dan duduk di sebelah kanan mertuaku. Dengan
wajah yang kubuat terlongong-longong kualihkan
pandanganku ke arah Joko dan Mbak Uci, dan ke arah
mertuaku bolak-balik. Kadang-kadang kupejamkan mataku,
mengikuti apa yang dilakukan oleh mertuaku. Sementara
itu, Joko sudah mulai aktif kembali menggumuli Mbak Uci.
. Sesekali kudengar helaan nafas halus bergantian dengan
isakan dari mulut mbak Uci. Kulihat juga mata mbak Uci
berkaca-kaca. Sebenarnya kasihan juga aku melihat
keadaannya itu. Tetapi, nafsu telah membutakan hati
nuraniku. Tanpa kusadari, kemaluanku secara berangsur-
angsur mulai membesar melihat situasi yang ada.
"Hai perempuan tua .. buka matamu, jangan ditutup
terus" kata Herman kepada mertuaku. "Apa kamu tidak mau
menikmati tontonan yang seru ini" sambung Herman lagi.
Mertuaku diam saja dan tetap memejamkan matanya. Kulihat
butiran air mata menetes di wajahnya. "Sini kamu" kata
Herman sambil menarik tubuh mertuaku hingga bersandar
didadanya. Tangan kiri Herman mulai meraba-raba payudara
mertuaku, sedangkan tangan kanannya tetap memegang pistol
itu. Sambil mengarahkan psitol itu ke arahku, Herman
berkata "Jangan macam-macam kamu, atau aku tembak". Dalam
hati sebenarnya aku ingin tertawa. Tetapi aku diam saja.
Ketika kulirik, Joko baru saja melepaskan BH mbak Uci.
Kudengar lenguhan tertahan ketika Joko mulai menciumi
buah dada mbak Uci. Kulihat Ibu mertuaku melirik ke arah
mereka selama beberapa saat, kemudian memejamkan matanya
lagi. Tangan Herman kulihat sudah berada di bagian bawah,
di sekitar kemaluan mertuaku. Terkadang meremas,
terkadang memutar. Sesekali kudengar helaan nafas
mertuaku.
Tiba-tiba terdengar tangis bayi. Kulihat Herman acuh
saja. Sedangkan mbak Uci kulihat melirik ke arah mertuaku
dan aku. "Tolong dong ... bayi saya bangun" kata mbak
Uci. "Biar perempuan tua itu saja yang mengurus" kata
Joko merasa terganggu. "Bajingan ini bagaimana" tanya
Herman. "Ikat saja di kursi itu" kata Herman sambil
mendongakkan dagunya ke arah kursi malas yang ada di
ruangan itu. "Talinya ... tidak ada boss" komentar
Herman. Setelah berpikir beberapa saat, kemudian Herman
berkata "Bodoh ... telanjangi saja dia dan ikat pakai
baju dan celananya". Wah ... ini sih tidak ada dalam
rencana, kataku dalam hati. Sambil mengarahkan pistol ke
arahku, lalu Herman menyuruhku membuka baju dan celana.
Sementara aku membuka baju dan celanaku, tangis bayi
semakin mengeras. Mertuaku yang bangkit berdiri, dibentak
oleh Herman sambil menyuruhnya untuk menunggu dulu.
Setelah tinggal celana dalam, kemudian Herman menyuruhku
berbaring di kursi malas di sebelah sofa tempat kami tadi
duduk. Kemudian ia meyuruh ibu mertuaku untuk mengikat
kedua tanganku pada lengan kursi malas itu dengan
mempergunakan baju dan celanaku. "Yang keras ya ... nanti
aku periksa!" katanya. Dengan kebingungan, mertuaku
melaksanakan apa yang diperintahkan Herman. Aku sempat
merasa malu dan tidak enak hati kepada mertuaku, karena
sambil mengikat ia sempat melirik ke arah celana dalamku.
Aku yakin bahwa ia dapat melihat bahwa kemaluanku sudah
tegang. Aku khawatir, ia curiga kepadaku bahwa dalam
keadaan menegangkan seperti ini koq aku dapat terangsang.
Dengan terlebih dahulu pura-pura memeriksa ikatan
pada kedua tanganku, kemudian Herman menggiring mertuaku
ke kamar di mana bayi berada. Kudengar Joko meminta mbak
Uci untuk menciumi kemaluannya. Pada awalnya mbak Uci
berkeberatan, kalau mau menyetubuhi, setubuhi saja aku
katanya. Tetapi setelah diancam bahwa bayinya akan
disakiti, dengan gerakan malas mbak Uci mulai
melaksanakan apa yang Joko minta. Beberapa saat kemudian
suara bayi tidak terdengar lagi. Sementara itu, sambil
meremas-remas dada mbak Uci yang duduk di lantai, Joko
meminta supaya mbak Uci lebih bersemangat lagi menciumi
kemaluannya. Walaupun ada peningkatan, tetapi tidak
perubahan yang berarti dari gerakan-gerakan mbak Uci.
Kemaluanku sendiri menjadi semakin mengeras dan mulai
menyembul keluar di bagian atas.
Mendengar langkah-langkah berjalan datang dari arah
kamar, mbak Uci menghentikan ciuman-ciumannya dan
bertanya "Kenapa Bu?". "E'e" jawab mertuaku singkat.
"Teruskan" kata Joko sambil menarik kepala mbak Uci ke
arah kemaluannya. Ibu mertuaku agak terbeliak melihat
keadaan Joko dan mbak Uci, dan kemudian melirik ke
arahku. Kemudian mereka duduk lagi, dan Herman
melanjutkan pelukan dan remasannya pada ibu mertuaku.
"Cepatan dong boss, gantian ... "kata Herman. "Pakai saja
itu perempuan tua" kata Joko. "Enggak minat. Pasti sudah
kendor" kata Herman.
Mbak Uci terlihat meringis kesakitan ketika Joko
mulai memasukkan kemaluannya. Tidak terlalu lama
mengayunkan pinggulnya, kemudian terlihat tubuh Joko
mengejang dan akhirnya menelungkup lemas di atas tubuh
mbak Uci. Sudah eyakulasi tampaknya dia. "Giliranku deh"
kata Herman. Sambil berdiri Herman melirik ke arahku dan
kemudian berkata "Gila ... ni bajingan ngaceng juga.
Pengen ...?" katanya dengan gaya mengejek. Setelah
menyerahkan pistol kepada Joko, kemudian Herman menarik
mbak Uci berdiri dan menggiringnya ke arahku. "Buka
celana tuh bajingan dan kamu masukin kontolnya ke
memekmu" kata Herman. Aku terkejut tetapi senang.
Sebenarnya ini tidak ada dalam skenario. Tapi malah aku
jadi berkesempatan merasakan kemaluan mbak Uci. Dengan
wajah bingung, mbak Uci menatapku dan kemudian
menundukkan kepalanya. Dengan perlahan ia mulai menarik
celana dalamku. Akhirnya bukan kepalanya saja yang
menghirup udara segara karena menyembul dari balik celana
dalam, seluruh selangkanganku juga jadi mendapat udara
segar. Dengan agak ragu-ragu, mbak Uci jongkok di atas
pinggulku dan kemudian memegang kemaluanku. "Halusnya
tanganmu mbak" batinku dalam hati. Kemudian ia
mengarahkan kemaluanku ke mulut kemaluannya. Terasa
hangat, dan aku sebenarnya sudah tidak sabar lagi ingin
masuk. Bless ... akhirnya kepala kemaluanku masuk ke
dalam kemaluan mbak Uci. Terasa licin dan lembut dinding
kemaluan mbak Uci. Boleh jadi maninya Joko yang
menyebabkan kelicinan itu. Walaupun demikian, kemaluan
mbak Uci tetap terasa rapat dan sempit. Mbak Uci
menurunkan lagi pinggulnya, sehingga hanya sekitar
seperempat bagian saja yang belum masuk. Terlihat mbak
Uci memejamkan matanya. Sambil menahan nafas, akhirnya
mbak Uci menekan lagi pinggulnya ke bawah sehingga
seluruh kemaluanku masuk. Kulihat mbak Uci menggigit
bibir bawahnya. Kutegangkan kemaluanku di dalam
kemaluannya, sambil merasa bahwa mbak Uci mulai
mengangkat pinggulnya lagi. Entah disengaja atau tidak,
kurasakan kemaluan mbak Uci agak mengencang ketika
pinggulnya turun lagi. Baru lima kali turun naik, tiba-
tiba terdengar Herman berkata "Cukup ! Sekarang
giliranku.". Kulihat mbak Uci terkejut dan menatapku
sejenak. Belum hilang rasa kagetku, Herman telah menarik
mbak Uci dari atas tubuhku dan menyeretnya ke sofa di
mana tadi Joko mengerjai mbak Uci. "Sialan!" kataku dalam
hati.
Tanpa basa-basi, begitu berbaring Herman langsung
memasukkan kemaluannya ke kemaluan mbak Uci dan mulai
mengayunkan pinggulnya. Tidak terlalu lama kemudian
terlihat kaki-kaki mbak Uci menegang dan kaki kanannya
menjejak-jejak halus di sofa. "Masa sih orgasme?" tanyaku
dalam hati. Kulihat ibu mertuaku juga agak mengernyitkan
alisnya. Joko yang dari duduk dengan agak lemas tiba-tiba
berkata kepadaku "hai bajingan, masih pengen?". Aku diam
saja. Kemudian Joko melanjutkan "Hai perempuan tua,
tunjukkan pengalamanmu ke bajingan itu" sambil
menggoyang-goyangkan pistolnya ke arah ibu mertuaku dan
ke arahku. Mertuaku terhenyak diam saja. "Cepat ... buka
bajumu" kata Joko. Setelah terdiam beberapa saat,
kemudian dengan terbata-bata mertuaku berkata "Saya mohon
... jangan paksa saya melakukan itu. Kami kan masih
keluarga". "Wah, malah kebetulan, saya jadi malah ingin
lihat" jawab Joko sambil mulai membuka kancing baju
mertuaku dan kemudian menyusupkan tangan kirinya ke dada
kiri mertuaku. Mertuaku berusaha menepis tangan Joko,
tetapi tampaknya ia tidak cukup punya keberanian untuk
menepisnya dengan keras, sehingga didiamkannya saja
ketika Joko meremas-remas dadanya. "Lumayan untuk seorang
wanita tua" kata Joko sambil menarik keluar tangannya
dari BH mertuaku. "Cepat buka sendiri seluruh pakaianmu
sampai bugil, kalau tidak aku sakiti cucumu!" kata Joko
mengancam. Mendengar ancaman itu, ibu mertuaku dengan
terpaksa mulai membuka baju dan roknya. "Pakaian dalamnya
juga" perintah Joko melihat mertuaku berhenti membuka
pakaiannya. Akhirnya terpampanglah tubuh bugil wanita
idamanku. Walaupun sebenarnya secara fisik, tubuh beliau
tidaklah semontok dan seindah kakak-kakak iparku, tetapi
bagi saya tetap beliaulah yang lebih menjadi idaman.
Joko mendorong tubuh bugil mertuaku ke arahku,
sehingga beliau agak terjerembab jatuh di atas tubuhku.
Seerrrrr ... rasanya ketika pinggir dada mertuaku
menyentuh kemaluanku. "Buka ikatannya" perintah Joko pada
mertuaku. Mertuaku tertegun sejenak, pandangan matanya
beralih-alih dari tubuhku yang ada di bawahnya ke arah
sofa dimana mbak Uci dan Herman berada. Dengan terpaksa,
secara perlahan beliau membuka ikatan di tangan saya.
Tangan kiri dulu, baru tangan kanan. Ketika membuka
ikatan di tangan kanan, sekilas terasa puting payudaranya
menyentuh perutku. Desiran halus terasa kembali di
dadaku. Entah apa yang ada dipikiran dan hati mertuaku
saat itu. Namun terlihat, beliau sangat galau sekali.
"Sampai juga pada puncak rencana" gumamku dalam hati.
Begitu ikatan di tanganku terlepas, aku bangkit
duduk. Sempat juga tubuhku bersentuhan dengan tubuh
telanjang mertuaku. Aku duduk termenung sebentar dan
kemudian berkata "Bolehkah kami melakukannya tidak
disini" pintaku kepada Joko dengan nada yang diatur
sedemikian rupa sehingga terdengar memelas. "Tawar-
tawaran lagi, cepat kamu kerjai tubuh perempuan ini"
bentak Joko. "Kasihan mertua saya pak, kursi ini keras
sekali. Lagipula, pengalaman ini akan sangat berat buat
kami. Bolehkah kami melakukannya di tempat tidur"
tawarku. Kulihat mbak Uci sempat melirik ke arah kami,
sedangkan ibu mertuaku diam saja dengan kepala tertunduk.
"Ya sudah sana, tapi jangan coba macam-macam" kata Joko
dengan nada tinggi.
Dengan tubuh bugil, kugandeng mertuaku menuju kamar
dimana aku telah mempersiapkan kamera video untuk merekam
kejadian yang akan terjadi. Joko mengikuti kami dari
belakang. Sementara Joko berdiri di depan pintu, kami
duduk di tempat tidur. "Apa yang harus kami lakukan"
tanyaku pada Joko. "Ngentot ... goblok!" katanya. Dengan
gaya ragu-ragu aku mulai membantu mertuaku berbaring
sambil berbisik "Maaf bu ....". Lalu aku bangkit berdiri.
Kupegang dengkulnya yang merapat satu sama lain, dan
kemudian kurenggangkan. Walaupun akhirnya kedua dengkul
mertuaku menjadi terbuka, tapi pada awalnya aku merasakan
agak kencang kedua dengkul tersebut merapat satu sama
lainnya.
Sambil menciumi dengkul kanannya, aku kemudian
bersimpuh di lantai sehingga posisiku cukup enak untuk
menciumi selangkangan mertuaku yang terbaring di pinggir
tempat tidur dengan kaki yang dapat menjuntai ke bawah.
Di selangkangannya, aku tidak langsung menciumi kemaluan
mertuaku, melainkan aku menciumi pangkal paha dan paha
bagian dalam. Sesekali pinggul ibu mertuaku menggeliat.
Mungkin karena geli. Aku terus menciumi pangkal paha dan
daerah sekitar kemaluan, tetapi tetap tanpa menyentuh
kemaluan mertuaku. Dari isteriku aku tahu bahwa ia sering
penasaran kalau aku perlakukan begitu. Aku berharap ibu
mertuaku juga jadi terangsang dan penasaran agar mulutku
menyentuh kemaluannya. Entah karena kebetulan, entah
karena sengaja, suatu saat geliat pinggul mertuaku
menyebabkan mulutku menyentuh kemaluannya. Aku, yang
sebenarnya sudah tidak sabar, langsung saja menciumi
kemaluan mertuaku itu. Dengan tekanan ringan kutempelkan
bibirku di bibir kemaluannya. Lidahku mulai berulang-
ulang menyapu dengan lembut bibir kemaluan mertuaku. Aku
mencoba menyelipkan lidahku di antara bibir kemaluannya.
Kudengar rintihan halus tertahan dari mertuaku. Mendengar
itu, aku menjadi semakin bersemangat. Ketika kurasakan
ada benda kecil yang semakin membesar di sebelah atas
kemaluan mertuaku, kujilat-jilat benda yang kira-kira
sebesar kacang itu. Aku tahu bahwa itu adalah klitoris
mertuaku. Dengusan nafas mertuaku semakin membuatku
bersemangat, apalagi ketika kurasakan tangan kiri
mertuaku menyentuh siku bagian dalam dari tangan kananku.
Aku mengira bahwa beliau mulai terangsang. Aku makin
cepat menggerak-gerakkan lidahku pada klitorisnya.
Sesekali kukulum lembut benda itu. Terdengar kembali
rintihan lirih dari mulut mertuaku.
Setelah beberapa saat, aku merasa bahwa kaki mertuaku
mulai bergetar lembut. Dengan penuh keyakinan,
sebagaimana pengalamanku dengan isteriku maupun dengan
Nina, kumonyongkan mulutku seperti huruf O, kusentuh
klitorisnya lalu kuhisap lembut. Kemudian kukulum
klitoris itu dengan lembut, makin lama makin keras.
Pinggul mertuaku sesekali bergerak ke atas, seakan
mendorong mulut dan wajahku. Kuikuti gerakan-gerakan
pinggul mertuaku itu tanpa berusaha memaksa agar turun
kembali ke bawah. Tiba-tiba kedua paha mertuaku menjepit
dengan ketat kepalaku. Aku menduga bahwa beliau orgasme.
Kubiarkan klitorisnya berada dalam mulutku beberapa saat
sambil sesekali kusapu dengan lidahku. "Aaggghhh .... "
kudengar erangan tertahan dari mulut mertuaku sambil
memegang lebih keras siku tangan kananku. Dan secara
berangsur jepitan pahanya pada kepalaku mulai mengendor,
sehingga aku lebih dapat bernafas lega. Walaupun aku
tidak tahu pasti, tapi aku agak yakin bahwa mertuaku baru
saja mencapai orgasme. Sedikit kegembiraan dan kebanggaan
hinggap di hati dan pikiranku. Ternyata, aku dapat
membuat orgasme wanita idamanku, gumamku dalam hati.
Kulirik wajah mertuaku yang sedang memejamkan matanya,
dengan raut wajah yang menunjukkan sedikit kelegaan jika
dibandingkan dengan beberapa saat sebelumnya yang sangat
tegang dan agak ketakutan. Dengan lembut, sesekali
kuremas buah dada kiri mertuaku. Tidak ada perlawanan
ketika kulakukan hal itu, bahkan kudengar lenguhan nafas
terlepas.
Kemaluanku yang dari tadi sudah sangat tegang, seakan
menuntut untuk dipuaskan. Karena itu, aku mulai merayap
naik ke tempat tidur sambil mengangkat dan mendorong
kedua kaki mertuaku hingga berada di bahuku. Kulirik
mertuaku, matanya tetap terpejam, namun gerakan didadanya
yang seirama dengan desah nafasnya terlihat cukup cepat.
Dengan menyandarkan kedua lututku ke pinggir tempat
tidur, kudekatkan kemaluanku ke selangkangannya.
Kugenggam kemaluanku dengan tangan kananku dan kemudian
kutempelkan dengan lembut ke atas bibir kemaluannya.
"Sseerrrr......" kurasakan desiran halus di dadaku.
Kubelai-belai bibir kemaluannya dengan kepala kemaluanku.
Lendir dari kemaluanku yang keluar dari kepala kemaluanku
dari tadi turut membasahi bibir kemaluannya. Geli-geli
hangat, dan nikmat rasanya. Ketika kuperlakukan begitu,
beberapa kali terlihat pinggul mertuaku bergerak-gerak
kecil. Setelah beberapa saat, kemudian kuturunkan kaki
mertuaku dari atas pundakku, dan kemudian secara perlahan
aku bergerak naik dan mulai mengangkangi tubuhnya dengan
bertopang pada tangan kiriku saja. Sedangkan tangan
kananku tetap menempelkan kemaluanku ke kemaluannya.
Karena tangan kiriku terasa mulai pegal menopang tubuhku,
kemudian kugunakan juga tangan kananku. Kemaluanku yang
tetap menempel pada kemaluannya, mulai kugerakkan dengan
menggerakkan pinggulku turun naik. Desiran demi desiran
kurasakan di dadaku, seiring dengan nafasku yang semakin
memburu.
"Belum masuk saja sudah begini nikmat" batinku dalam
hati. Kemudian kuturunkan tubuhku, sehingga dadaku
menyentuh dadanya, dan akhirnya aku menindih tubuhnya.
Kembali desiran halus dengan intensitas yang agak kuat
kurasakan di dadaku. Kulihat mertuaku tetap memejamkan
matanya. Karena kulihat tidak ada keberatan dan
perlawanan, apalagi aku merasa telah berhasil membuat
mertuaku orgasme, kemudian kuberanikan diri untuk
memegang sisi kepalanya dengan kedua telapak tanganku.
Mulai kuciumi kuping kiri mertuaku. Aku berencana ingin
mencium bagian belakang daun telinga mertuaku, dengan
harapan bahwa ia akan terangsang dengan cukup hebat,
sebagaimana terjadi pada anaknya, yaitu isteriku.
Ternyata harapanku itu bukan harapan kosong. Desahan dan
lenguhan nafas mertuaku menjadi semakin seru. Aku menjadi
tambah semangat, sambil terus menggesek-gesekkan
kemaluanku ke kemaluannya. Kurasakan pergesekan
kemaluanku dengan kemaluannya semakin menjadi mudah
karena adanya cairan yang mulai membasahi kemaluan kami.
Karena rangsangan yang kuperoleh sedemikian hebat, aku
tidak tahan lagi. Dengan bantuan tangan kananku, kemudian
kuarahkan kepala kemaluanku ke arah bibir kemaluannya.
Setelah merasa pada posisi yang tepat, kemudian kudorong-
dorong kepala kemaluanku berusaha memasuki kemaluannya.
Usaha itu kemudian membuahkan hasil. Kepala kemaluanku
mulai memasuki gerbang kemaluan ibu mertuaku. Jepitan
hangat dan lembut dari dinding kemaluan mertuaku terasa
di kepala kemaluanku. Kugoyang-goyangkan pinggulku ke
atas ke bawah dengan gerakan-gerakan kecil, makin lama
terasa kemaluanku makin dalam terbenam dalam kemaluannya,
sehingga akhirnya aku berhasil memasukkan seluruh
kemaluanku ke dalam kemaluannya. "Akhirnya ...." gumamku
dalam hati, sambil merasakan kenimatan, kehangatan dan
desiran yang menjalar ke seluruh sudut tubuhku. Setelah
kudiamkan beberapa saat, akhirnya kegerakkan pinggulku
dengan gerakan memompa kemaluanku keluar masuk kemaluan
ibu mertuaku. Kenikmatan semakin merajalela menjalar di
seluruh tubuhku, terlebih rangsangan secara mental karena
yang sedang kusetubuhi ini adalah ibu mertuaku, yang
merupakan wanita idamanku selama ini.
Desisan demi desisan yang keluar dari mulut mertuaku
terdengar bergantian dengan deru nafasku sendiri. Kadang-
kadang kurasakan gelinjang kecil dari pinggul mertuaku.
Bagaikan lupa pada status hubungan kami dan kondisi yang
sedang kami hadapi, yaitu di bawah paksaan penodong,
kedua kaki mertuaku mulai kurasakan merangkul pinggul dan
pinggangku. Kadang terasa hanya menempel saja, kadang
terasa menjepit dengan keras. Sekali waktu, kedua kaki
mertuaku membelit dengan keras kedua kakiku dan tubuhnya
agak mengejang. Merasa kemungkinan bahwa mertuaku
mengalami orgasme lagi membuatku menjadi makin
bersemangat dan bernafsu, hingga akhirnya aku tidak tahan
lagi. Akhirnya, seraya mendorong sedalam mungkin
muncratlah air maniku di dalam kemaluannya. Tubuhku
mengejang ritmis beberapa kali diiring lenguhan nafas
lega dari hidungku. Kupeluk erat tubuh mertuaku dan
secara bertahap akhirnya aku terkulai beberapa saat di
atas tubuh mertuaku.